Review Taiko

Dikutip dari Taiko (Buku Satu):

Menjelang pertengahan abad keenam belas, ketika keshogunan Ashikaga ambruk, Jepang menyerupai medan pertempuran raksasa. Panglima-panglima perang memperebutkan kekuasaan, tapi dari tengah-tengah mereka tiga sosok besar muncul, seperti meteor melintas di langit malam. Ketiga laki-laki itu sama-sama bercita-cita untuk menguasai dan mempersatukan Jepang, namun sifat mereka berbeda secara mencolok satu sama lain: Nobunaga, gegabah, tegas, brutal; Hideyoshi, sederhana, halus, cerdik, kompleks; Ieyasu, tenang, sabar, penuh perhitungan. Falsafah-falsafah mereka yang berlainan itu sejak dulu diabadikan oleh orang Jepang dalam sebuah sajak yang diketahui oleh setiap anak sekolah:

Bagaimana jika seekor burung tak mau berkicau? 

Nobunaga menjawab, “Bunuh saja!”

Hideyoshi menjawab, “Buat burung itu ingin berkicau.”

Ieyasu menjawab, “Tunggu.”

Buku ini, Taiko (sampai kini, di Jepang, Hideyoshi masih dikenal dengan gelar tersebut), merupakan kisah tentang laki-laki yang membuat burung itu ingin berkicau.

Taiko merupakan karya besar Eiji Yoshikawa, seorang novelis sejarah Jepang. Ia menciptakan sejumlah besar karya dan minat baru di masa lalu. Ia disebut-sebut sebagai salah satu novelis sejarah terbaik di Jepang. Taiko merupakan novel epik perang dan kemuliaan di masa feudal Jepang. Taiko asli terbagi menjadi 10 bagian dan diterbitkan perbagian pula, namun kini lebih mudah menemukan versi hardcover nya yang sudah lengkap 10 bagian menjadi satu jilid.

Awal mula saya membaca Taiko adalah karena tertarik dengan tokoh Oda Nobunaga. Saya pribadi kurang tertarik dengan cerita berlatar belakang sejarah karena biasanya susah dipahami, namun pada akhirnya saya mencari novel-novel yang memuat tentang Oda Nobunaga tersebut. Hingga akhirnya saya menemukan novel Taiko di internet yang ternyata terbagi menjadi 10 bagian.

Saya mulai membaca Taiko bagian satu yang seluruh halamannya terdiri dari 340 halaman. Penulis—Eiji Yoshikawa—menuliskan nama-nama tokoh dan juga tempat dari novel tersebut. Menurut saya dari hal tersebut memudahkan para pembaca untuk mengingat tokoh yang terlibat dalam novel. Taiko bagian satu ini lebih fokus pada cerita tentang Hiyoshi (nama kanak-kanak Toyotomi Hideyoshi) dan saya selalu menunggu kehadiran Oda Nobunaga dalam novel ini.

Hideyoshi sering dijuluki “monyet” oleh teman-temannya karena wajahnya yang mirip monyet dan juga perawakannya yang tidak begitu tinggi. Setelah ayahnya meninggal, ibunya menikah lagi dengan seorang pria yang berwatak keras. Buku ini menjabarkan tentang perjalanan Hideyoshi si anak miskin yang sering dipanggil monyet, pembantu di dapur benteng, pembawa sandal Nobunaga, dan tukang jarum.

Pembaca akan dibuat kagum dengan kisah dari Hideyoshi tersebut. Meskipun ia sering berganti tuan dan terlihat tidak cocok dengan pekerjaan apapun, namun sejatinya ia adalah orang yang lebih mementingkan bekerja daripada makan. Hideyoshi selalu dianggap caper atau cari muka terhadap tuannya dimata para pekerja yang lain, sehingga menimbulkan iri dan dengki. Setelah pertemuannya dengan Oda Nobunaga, watak Hideyoshi yang bijak dan teliti makin terlihat. Ia yang awalnya hanya pembawa sandal Oda Nobunaga, diangkat menjadi pengawas dapur, dan berganti lagi menjadi pengawas arang dan kayu bakar. Ia mengerjakan semua pekerjaan dengan baik dan jujur, sehingga ia memiliki keistimewaan khusus di mata Nobunaga.

Ketika ia menjadi pengawas dapur, ia berhasil membuat sebuah jendela besar sehingga dapur tidak lagi gelap. Saat ia menjabat pengawas arang dan kayu bakar, ia telah bekontribusi untuk menurunkan pesanan arang dan menghematnya. Pada saat ia mengecek pasokan arang, ia membuka rahasia bahwa sang pemasok berbohong tentang jumlah pohon perbukit dan memberikan sanksi untuk mereka. Dari hal tersebut terlihat bahwa Hideyoshi adalah orang yang tekun dan teliti.

Setelah itu, Hideyoshi mendapatkan kedudukan baru sebagai penjaga kandang, kenaikan upah, dan memperoleh rumah khusus untuk para samurai. Tentu hal ini membuat Hideyoshi sangat senang. Hal yang paling mengagumkan dari sosok Hideyoshi adalah bahwa ia selalu bekerja dengan tekun dan memiliki kesenangan tersendiri dari setiap pekerjaannya.

Silapro 2020

皆さん、こんにちは、お元気ですか。

HIMA Prodi Pendidikan Bahasa Jepang yakni, ASAHI (Apresiasi Mahasiswa dalam Himpunan) sukses mengadakan program kerja tahunan tidak lain dan tidak bukan SILAPRO (silaturahmi Prodi) pada hari Sabtu, 03 Oktober 2020 yang diadakan melalui via ZOOM. Terima kasih kepada sensei gata untuk menyempatkan waktunya di acara Silapro kali ini dan teman – teman perwakilan dari HIMA BSA dan Himapro.

Acara tahunan Silapro diadakan untuk menyambut mahasiswa baru PBJ 2020 Unnes, memperkenalkan lingkungan Unnes serta memperkuat dan mempererat tali kekeluargan Prodi PBJ Unnes. Tema Silapro tahun 2020 ini yaitu 「距離があっても繋がりを保つ」yang berarti tetap terhubung meskipun berjauhan. Meskipun jarak kita dipisahkan karena pandemi virus korona kita tetap menjaga ikatan.

Acara dimulai dengan pembukaan dari pembukaan MC dari Kian-san, Ketua Jurusan oleh Rina-Sensei, Ketua Prodi oleh Silvi-sensei, ketua panitia Silapro oleh Ridho-san, Ketua Asahi oleh Fajar-san dan Pembina Asahi Lutfi-sensei. setelah penyambutan ada perkenalan sensei-gata yang dibawakan oleh Silvi – sensei.

Setelah pembukaan dan penyambutan. selanjutnya ialah pemaparan materi dari Heni – sensei, Dyah – senpai, dan kazu – senpai. Penyampaian materi pertama ialah Heni – sensei. beliau merupakan lulusan dari Universitas Nagoya. saat beliau di Universitas Nagoya beliau mendalami fonetik dan fonologi. Beliau menceritakan pengalaman belajar di Jepang seperti presentasi mengenai hasil penilitiannya dan mempresentasikan berbagai hal di Indonesia. sensei sempat juga menceritakan pengalaman hidup beliau saat di Jepang dimana beliau menghadiri upacara pernikahan orang Jepang dan ikut serta dalam event Jepang. beliau juga memberikan tips dan trik untuk hidup di Jepang.

Setelah Pemaparan Heni – Sensei ada juga pemarapan dari Dyah – Senpai. Dyah Senpai menerangkan mengenai program beasiswa yang telah ia jalani, kegiatan apa saja yang ia telah lakukan sebagai penerima beasiswa. Dyah – senpai juga menerangkan tahap – tahap untuk mengurus beasiswa, serta trik dan tips untuk mudah lulus seleksi beasiswa. Selanjutnya adalah Kazu- senpai. Kazu-senpai menceritakan betapa sulitnya hidup di Jepang. dari mengatur waktu belajar dan waktu untuk kerja. Kazu – senpai juga memeberikan trik dan tips mengani pekerjaan paruh waktu di Jepang.

Untuk meriahkan suasana di selang acara. Divisi bunka shoukai dan divisi sukizuki menampilkan bebereapa penampilan. divisi bunka shoukai menampilkan odori Tokio Funka dan Kami no mani mani yang membuat para peserta terpana oleh penari khususnya Mba yukata pink. adapun dari divisi sukizuki yang membawakan sebuah lagu oleh Asahi Band yang terkenal karena suaranya yang merdu dan penampilan yang memukau.

Setelah pemaparan materi yang disampaikan oleh Sensei dan senpai tachi. selanjutnya pengenalan mengenai Asahi dan divisi – divisinya. pengenalan Asahi bertujuan untuk mahasiswa baru untuk menemukan bakat dan minat mereka. untuk mengenal bakat dan minta mereka Asahi memperkenlakan divisi yang ada dalam Asahi beserta perkenalan prokram kerja yang dilakukan oleh setiap divisi. selain pengenalan Asahi, juga ada pengenalan NIMATS (Nihon Matsuri) acara tahunan PBJ Unnes.

Ginga Tetsudou no Yoru bagian 2

Yo!!! kali ini ada lanjutan dari artikel “Ginga tetsudou no Yoru” pada artikel ini berisi singkat cerita novel Ginga Tetsudou no Yoru. Bagi teman yang tertarik pada sastra semoga artikel ini bermanfaat bagi pembaca.

Sebelum ke Singkat ceritanya mari kita berkenalan lebih dekat pada penulisnya. Miyazawa Kenji adalah seorang sastrawan Zaman Kindai yang lahir pada tanggal 27 Agustus 1896 di Toyosama-cho, Hanamaki-shi, Iwate-ken. Pada tahun 1902 ia terserang batuk rejan dan masuk rumah sakit selama dua minggu. Pada usia 20 tahun dia untuk pertamakalinya menulis cerita anak-anak yang berjudul “Tantogawa”. Sejak usia 26 tahun, selain cerita anak-anak ia juga mulai produktif menulis sajak. Sajaknya yang paling terkenal adalah “Ame ni mo Makezu” yang berisi tentang keinginannya untuk tetap hidup agar dapat menebar manfaat bagi orang lain.

Diusia 32 tahun ia terkena radang paru-paru akut, sejak saat itu dia hidup sakit-sakitan. Dibulan September tanggal 21 pada usia 37 tahun ia meninggal karena Pneumonia. Karya karya lain Miyazawa Kenji yang populer antara lain: Kaze no Matasaburou, Sero Hiki no GOOSHUU dan Taneyamagahara no Yoru.

Giovanni adalah seorang laki-laki yang kesepian. Ayahnya pergi dalam pelayaran panjang untuk menangkap ikan, sedangkan ibunya sakit-sakitan. Karena itu, untuk makan sehari-hari Giovanni harus mengambil kerja paruh waktu seperti mengantarkan surat dan mengatur mesin cetak (Pada zaman itu belum ada mesin percetakan, jadi koran dicetak menggunakan alat seperti stempel. Setiap satu stempel melambangkan satu huruf, stempel-stempel tersebut disusun agar dapat membentuk suatu paragraf. Giovanni bekerja menyusun stempel-stempel itu.) sebelum Ia pergi sekolah dan setelah Ia pulang sekolah.

Akibat perannya sebagai tulang punggung keluarga, Giovanni tidak memiliki waktu untuk belajar maupun bermain dengan teman sebayanya. Hal itu menyebabkan Ia diejek dan dijauhi oleh teman-temannya. Satu-satunya teman yang Ia miliki hanyalah Campanella. Campanella adalah teman masa kecil Giovanni. Karena ayah Giovanni dan Campanella dekat jadi saat kecil mereka sering bermain bersama.

Di sekolah pada saat pelajaran IPA, Giovanni ditanya oleh gurunya “Apa yang dimaksud sebagai Galaksi Bimasakti?”. Giovanni tahu bahwa Galaksi Bimasakti terdiri dari bintang-bintang, namun Ia tidak dapat menjawabnya. Sang gurupun melempar pertanyaan yang sama pada Campanella, namun Campanella sengaja tidak menjawab untuk melindungi Giovanni dari ejekan teman-temannya lebih jauh lagi. Diakhir pelajaran guru tersebut menganjurkan seluruh anak kelas agar menghadiri Festival Bintang yang akan diselenggarakan sore ini.

Saat pulang ke rumah, Giovanni mendapati bahwa hari itu tidak ada susu sapi yang seharusnya sudah diantarkan ke rumahnya. Jadi, Ia pergi ke peternakan untuk mengambil susu sapi yang seharusnya menjadi makan malam Ibunya. Di peternakan Giovanni hanya menjumpai nenek tua. Ketika Giovanni meminta jatah susu sapi untuk Ibunya, nenek tua itu berkata tidak bisa menyediakan susu sapi tersebut sekarang. Nenek tua itu menyuruh Giovanni pulang dan kembali lagi nanti.

Sambil menunggu susu sapi untuk Ibunya siap, Giovanni berencana pergi ke Festival Bintang dengan mengajak Campanella bersamanya. Namun, dijalan Giovanni melihat Campanella sudah bersama teman sekelasnya. Mereka sepertinya akan pergi ke Festival Bintang bersana. Giovannipun mengurungkan niatnya.

Dijalan pulang Giovanni berpapasan dengan teman sekelasnya yang lain. Mereka mengejeknya dan mencela ayah Giovanni yang tidak pulang-pulang. Giovanni yang merasa sakit hati berlari menuju puncak bukit yang berada didekat kotanya. Diatas padang rumput Giovanni menjatuhkan tubuhnya, Ia berbaring menatap langit, menyelami galaksi yang terbentang dihadapannya. Tiba-tiba Giovanni berada diatas rel kereta, dengan kereta yang hampir menabraknya. Untungnya kereta tersebut berhenti tepat didepannya. Dari jendela luar Giovanni melihat Campanella, karena penasaran Iapun masuk ke dalam kereta dan duduk disebelah Campanella. Keretapun melaju membelah keheningan langit malam.

Kereta itu melewati bintang utara dan banyak bintang lain dalam perjalanan melintasi galaksi. Kedua anak itu menyaksikan banyak pemandangan menakjubkan dan bertemu dengan berbagai macam orang. Ada ilmuan yang sedang menggali pasir kristal putih untuk mencari fosil, seorang lelaki penangkap bangau yang dapat mengubah bangau tangkapannya menjadi permen, dan dua orang anak. Anak tersebut bernama Tadashi dan Kaoru. Mereka bercerita pada Giovanni  bahwa sebelum menaiki kereta ini awalnya mereka berada di atas kapal. Namun kapal tersebut  tenggelam setelah menabrak gunung es.

Saat melihat keluar jendela terlihat nyala api yang terang. Ternyata kereta sedang melewati The Flame of Scorpio. Kaoru jadi teringat sebuah cerita mengenai seekor kalajengking. Ada seekor Kalajengking yang selama hidupnya menyengat binatang lain untuk dijadikan mangsanya. Namun diakhir hidupnya kalajengking tersebut terpojok saat menghindari kejaran musang dan jatuh ke sebuah sumur. Kalajengking itu menyesal mengapa Ia tidak mengorbankan dirinya untuk hal yang baik. Kalajengking itu berpikir lebih baik Ia jadi makanan musang dari pada mati sia-sia jatuh ke sumur. Sang Kalajengking kemudian berdoa agar Ia bisa membawa kebahagiaan bagi orang lain pada kehidupan selanjutnya. Akhirnya tubuh kalajengking itu meledak dan menjadi sebuah nyala api yang sampai sekarang masih bersinar terang ditengah kegelapan langit malam.

Pemberhentian kereta tersebut selanjutnya berada di Bintang Selatan. Di Bintang Selatan semua penumpang turun kecuali Giovanni dan Campanella. Giovanni berjanji pada Campanella bahwa mereka akan terus bersama dan bersumpah bahwa Dia akan meneladani Kalajengking yang ingin membawa kebahagiaan sejati untuk semua orang. Kemudian kereta itu melanjutkan perjalanannya.

              Akan tetapi saat kereta mendekati Coalsack (lubang gelap di langit) Campanella menduga disanalah tempat pemberhentian terakhir untuknya. Ia seperti melihat ibunya telah menunggu disana. Secara tiba-tiba Campanella menghilang dari kereta, meninggalkan Giovanni sendirian dalam keputusasaan.

              Saat tersadar Giovanni tiba-tiba berada di atas bukit. Ia menganggap petualangannya melintasi galaksi hanya sebagai khayalannya. Giovanni kemudian berencana untuk kembali ke peternakan mengambil susu sapi yang tadi dijanjikan oleh nenek tua. Diperjalanan pulang setelah mengambil susu sapi Giovanni berpapasan dengan teman sekelasnya yang sedang berlari. Ia diberitahu bahwa Campanella tenggelam di sungai saat ingin menolong temannya yang tercebur. Giovanni kemudian bergegas menuju sungai tersebut karena takut mimpinya tentang Campanella yang menghilang saat mereka menaiki kereta menjadi kenyataan. Disana ternyata sudah ada bapak Campanella yang sedang sedih karena tidak berhasil menyelamatkan Campanella yang tenggelam.

Ayah Campanella memberitahu Giovanni bahwa Dia telah menerima surat dari ayahnya Giovanni dan berpesan bahwa Ayah Giovanni akan segera pulang. Giovanni melanjutkan perjalanan pulang untuk menyampaikan kabar tersebut kepada Ibunya sekaligus membawa sebotol susu untuk makan malam. Diam-diam Giovanni tahu kemana Campanella pergi dan Giovanni bersumpah untuk tetap tegar menjalani kehidupan.

Ginga Tetsudou no Yoru 銀河鉄道夜

Mina3 konnichiwa. kali ini kami memperkenalkan salah satu novel terkenal yang tentunya sangat menarik dan berbeda dari cerita yang lain. penasaran? silahkan simak artikel dibawah ini.

Ginga Tetsudou no Yoru (銀河鉄道の夜) merupakan novel karya Miyazawa Kenji yang diterbitkan oleh Bunpodou pada tahun 1934. Pada tahun 1922 adik perempuan Kenji yang bernama Miyazawa Toshi meninggal, dalam keadaan berduka Kenji melakukan perjalanan menggunakan kereta api ke Sakhalin. Dia mulai mengerjakan novel ini segera setelahnya di tahun 1924 karena terinspirasi dari perjalanan kereta yang ia lakukan. Novel ini mengandung pertanyaan religius dari penulisnya, Kenji Miyazawa yaitu “Apakah kebahagiaan sejati itu?”, pertanyaan ini juga merupakan tema utama dari cerita novel ini. Selain itu, novel ini juga membahas mengenai alasan hidup seseorang di dunia ini.

Karena cukup populer novel ini juga diadaptasi menjadi berbagai bentuk karya yang lain seperti buku ilustrasi, film animasi dan theater.  Ginga Tetsudou no Yoru telah dibuat menjadi film animasi pada tahun 1985 yang disutradarai oleh Gisaburo Sugii.

Ginga Tetsudou no Yoru (kadang juga diterjemahkan sebagai Night on the Galactic RailroadMilky Way Railroad, Night Train to the Stars atau Fantasy Railroad in the Stars) bercerita tentang seorang anak yang mendapatkan kesempatan menaiki kereta antar galaksi. Dalam petualangannya melintasi galaksi, anak itu menyaksikan banyak pemandangan menakjubkan dan bertemu dengan berbagai macam orang. Dari sanalah Ia belajar banyak hal. Diakhir cerita diketahui bahwa kereta tersebut sebenarnya adalah kereta pengangkut arwah orang yang telah tiada. Kereta tersbut mengantarkan arwah orang-orang ke tujuan akhirnya masing-masing.

Cerita yang disajikan sederhana, namun sarat akan makna. Penggambaran cerita dilakukan penuh dengan imajinasi yang sangat menakjubkan. Pembaca seakan terseret ke dalam suatu dunia fantasi baru yang belum pernah mereka masuki.

Link Novel Terjemahan Inggris

https://archive.org/stream/manga_Night_on_the_Galactic_Railroad/Night%20on%20the%20Galactic%20Railroad_djvu.txt

Link Adaptasi Manga

https://archive.org/details/manga_Ginga_Tetsudou_no_Yoru_Variety_Art_Works/mode/2up

Raihoshin 来訪新

Bersamaan dengan reggae Jamaika, hurling Irlandia dan gulat tradisional Georgia, ritual rakyat dari Jepang “Kunjungan dewa” (来訪神, raihoshin) ditambahkan kedalam daftar Warisan Budaya Takbenda Organisasi Pendidikan, Keilmuan, dan Kebudayaan Perserikatan Bangsa-Bangsa pada November 2018. Ini ditambahkan kedalam daftar UNESCO dikarenakan beberapa alasan, terutama karena dengan melakukan ritual ini “orang setempat ( khususnya anak-anak)membentuk identitas mereka, mengembangkan keterikatan dalam komunitas mereka,” menurut UNESCO dalam pengumumannya.

 kunjungan dewa dilakukan di komunitas pedesaan di seluruh Jepang, khususnya pada akhir tahun, atau saat pergantian musim, terutama pada akhir musim panas dan awal musim gugur, dan akhir musim dingin tradisional ( menurut kalender lama Jepang ) dan awal musim semi. Ritual ini dan dewa-dewa didasarkan pada tradisi rakyat yang sudah jauh lebih lama berakar di Jepang daripada Agama Budha atau bahkan Shintoisme.

Menurut UNESCO:

“Ritual Raihoshin setiap tahunnya berlangsung di berbagai daerah di Jepang ( terutama di Tohoku, Hokuriku, Kyushu, dan daerah Okinawa ) pada hari-hari yang menandai awal tahun atau saat pergantian musim. Ritual seperti ini berasal dari kepercayaan rakyat bahwa dewa-dewa dari dunia luar ( Raihoshin ) mengunjungi masyarakat setempat dan datang saat tahun baru atau musim baru dengan kebahagiaan dan keberuntungan.”

Meskipun ritual setiap daerah berbeda-beda, kunjungan dewa-dewa paling dikenal sebagai namahage, sejenis raksasa atau setan. Ritual ini umumnya melibatkan laki-laki atau perempuan-perempuan yang menyamar sebagai setan namahage atau raishoshin yang lain yang menggunakan kostum kasar dan topeng (dan terkadang bersenjatakan pisau). Setan-setan masuk ke rumah-rumah untuk menakuti anak-anak sampai ditenangkan dengan sake, bir atau persembahan serupa. Dalam variasi lain dari ritual ini, setan-setan mengejar anak-anak di jalanan untuk menakuti mereka.

 Video dari Kumamoto ini, di barat daya pulau Kyushu, seorang pria yang menyamar sebagai namahage memasuki rumah selama setsubun, biasanya sehari sebelum mulainya musim semi dan sekarang dirayakan setiap tahunnya pada tanggal 3 Februari.  Beberapa bagian dari Kumamoto, namahage mengunjungi rumah, menakuti anak-anak muda. Bagian dari tradisi setsubun di seluruh Jepang melibatkan anak-anak yang melemparkan kedelai panggang pada anggota keluarga yang mengenakan topeng raksasa, tetapi di Kumamoto, anak-anak dapat melemparkan kedelai-kedelai pada orang yang mengenakan kostum raksasa dari atas kepala hingga ujung kaki, yang tampak seperti “aslinya”.

Terdapat variasi-variasi dalam tradisi ini sepanjang kepulauan Jepang. Pulau Miyako, di ujung barat daya Jepang, melakukan ritual Paantu. Laki-laki setempat yang berperan sebagai dewa yang berkunjung ini mengenakan topeng kasar dan menutupi badan mereka dengan lumpur dan tanaman merambat, dan bergerak kesana kemari di sekitar kota sambil melumuri orang-orang dengan lumpur untuk kesehatan dan keberuntungan untuk 12 bulan kedepan. Ritual ini, tentu saja, menakutkan untuk anak-anak setempat.

Ritual tradisional lainnya yang masuk dalam daftar kunjungan dewa UNESCO termasuk Festival Akusekijima God Boze, ritual Kagoshima’s mendon, dan ritual don-don dirayakan di pulau Koshikijima di lepas pantai barat daya Jepang, dimana setan atau raksasa yang berkunjung, memakai daun-daun di badannya, menegur anak-anak untuk berperilaku baik di tahun yang akan datang.

Prefektur Akira di timur laut Jepang barangkali paling terkenal akan ritual kunjungan dewanya, dan terdapat sebuah museum yang ditujukan untuk setan namahage di dasar Oga Peninsula. Setelah gagal menambahkan ritual namahage Akita kedalam daftar warisan budaya takbenda UNESCO beberapa tahun yang lalu, Jepang memutuskan untuk mengajukan semua ritual kunjungan dewa sebagai satu kelompok pada 2018 dan berhasil.

 Jepang dalam mendaftarkan berbagai aset dan praktik budaya dengan UNESCO tidak luput dari perhatian beberapa pengamat.

Sumber : https://id.globalvoices.org/2018/12/05/ritual-rakyat-yang-menyeramkan-dari-jepang-menambah-daftar-warisan-budaya-takbenda-unesco/

NOVEL MAIHIME KARYA MORI OUGAI

Mori Rintaro (林太郎) atau yang lebih dikenal sebagai Mori Ougai (森 鴎外) adalah novelis, penerjemah, kritikus, sekaligus dokter militer dan seorang birokrat. Lahir pada tanggal  17 Februari 1862 di kota Tsuwano, Provinsi Iwami (sekarang Prefektur Shimane) sebagai putra sulung Mori Shizuyasu (Mori Shizuo) dan Mineko dan meninggal 9 Juli 1922

Ketika ia berusia 11 tahun, ayahnya mengajaknya untuk pindah ke Tokyo. Pada tahun 1874, Mori diterima di tingkat persiapan sekolah kedokteran Dai Ichi Daigaku-ku Igakkō. Mori lulus sebagai dokter pada bulan Juli 1881 dalam usia 19 tahun, dan bekerja di Rumah Sakit Angkatan Darat Tokyo.

                Pada tahun 1884, Mori yang berusia 23 tahun diperintahkan belajar ke Jerman. Selama berada di Jerman, Mori tidak hanya belajar kedokteran militer, melainkan juga mendalami kesusastraan dan filsafat Barat di waktu luang. Kembalinya Mori ke Jepang diikuti dengan kedatangan seorang wanita Jerman bernama Elise Wiegert. Setelah tinggal bersama Mori di Jepang sekitar 1 bulan, Elise memilih pulang ke Jerman. Kisah kasih dengan Elise merupakan inspirasi bagi novel Maihime.

                Pada bulan Januari 1890, novel Maihime dimuat majalah Kuni no Tomo yang dilanjutkan pada bulan Agustus dengan Utakata no Ki (A Sad Tale) di majalah Shigarami Sōshi, serta Fumizukai (The Courier). Terutama novel Maihime benar-benar mengagetkan publik Jepang karena isinya mengisahkan percintaan orang Jepang dengan orang asing berkulit putih.

                 Novel Maihime ini merefleksikan kehidupan ‘Ota Toyotaro’ sebagai tokoh utama yang sebenarnya adalah Mori sendiri. Novel ini berdasar kisahnya saat menuntut ilmu di Jerman. Saat ia masih menempuh pendidikan di Universitas Berlin, Ota bertemu dengan seorang gadis bernama Elise didepan gereja tua. Elise saat itu sedang menangis sehingga Ota merasa iba dan menawarkan bantuan kepada Elise. Dari situ Ota menyadari bahwa Elise adalah seorang penari miskin yang baru saja kehilangan ayahnya dan terbekit hutang. Ota pun akhirnya memutuskan untuk membantunya, dan berkat itu ia semakin dekat dengan Elise dan juga keluarganya. Hingga akhirnya mereka memutuskan untuk menikah. Namun karena suatu konflik dan kesalah pahaman, hubungan mereka tak lagi baik dan Ota terpaksa mengambil kontrak kerja dari temannya, Aizawa. Dan Ota meninggalkan Elise di Jerman saat Elise masih mengandung anak mereka. Karena hal itulah, hingga akhir hayatnya Ota masih merasa benci kepada temannya, Aizawa.

Sichi Fukujin

Mina-san konnichiwa. apakah mina-san tau apa itu sichi Fukujin. Shichi Fukujin adalah sebutan untuk 7 dewa keberuntungan, yaitu Daikokuten, Ebisu, Bishamonten, Fukurokuju, Hotei, Jurojin, dan Benzaiten. Masing-masing dewa memiliki tempat ibadah sendiri-sendiri. Selain itu, tipe permohonan untuk setiap dewa juga berbeda-beda.

Kuil yang dipersembahkan untuk 7 dewa ini hanya sedikit dan kebanyakan dalam satu kuil hanya dipersembahkan untuk 1 dewa saja. Oleh sebab itu, jika Anda ingin berdoa kepada 7 dewa tersebut, Anda harus pergi ke 7 kuil berbeda.

Orang Jepang percaya bahwa jika Anda mengunjungi ketujuh kuil tersebut secara berurutan maka Anda akan mendapatkan keberuntungan.

  • Daikokuten

Daikokuten juga adalah dewa yang diataptasi dari dewa kematian asal India bernama Mahakala. Daikokuten juga dianggap sebagai dewa perang, namun sebenarnya ia adalah dewa kekayaan dan kemakmuran.

Daikokuten memiliki tubuh pendek menggunakan pakaian Tiongkok, berkaki kecil dan berjenggot. Ia juga membawa palu emas dan kantung sebagai lambang bahwa daikokuten adalah dewa pelindung bagi pengusaha, pengrajin, dan orang yang bergelut di bidang keuangan. Selain itu Daikokuten juga dipercaya merupakan pemburu hantu.Kuil Sensoji di Asakusa adalah kuil yang dipersembahkan untuk dewa ini.

  • Ebisu

Ebisu merupakan satu-satunya dewa asli asal Jepang dalam kelompok tujuh dewa ini. Ebisu adalah dewa keberuntungan dan kekayaan laut yang dipercaya merupakan dewanya para pengusaha, pebisnis dan para nelayan karena dapat membawakan kemakmuran dalam berusaha.

Dewa Ebisu ialah anak dari Daikoku yang merupakan dewa kemakmuran juga. Ebisu digambarkan sebagai pria berbadan gemuk yang membawa seekor ikan atau alat pancing.  Itulah mengapa Ebisu adalah dewa yang dipercaya dapat mendatangkan tangkapan ikan yang melimpah bagi para nelayan.. Di Asakusa, kuil untuk menyembah dewa ini adalah di Kuil Asakusa.

  • Bishamonten

Bishamonten adalah dewa perang yang aslinya dari India bernama Vaisravana. Namun Bishamonten ini sering disalah artikan sebagai dewa perang lho, sebenarnya ia merupakan dewa misionaris buddhis.

Digambarkan Bishamon berwajah garang, selalu memakai baju zirah dan membawa pedang anti marabahaya. Bishamon memiliki tubuh tinggi berjenggot, membawa pagoda ditangannya sebagai lambang kepercayaan dan memiliki seorang utusan yaitu seekor pinguin.

Bishamonten merupakan dewanya para dokter, tentara dan biksu karena mampu mendatangkan kebahagiaan, kekayaan dan ketulusan. Selain itu Bishamon juga dipuja karena dapat membuat iblis menjauh. dan untuk menyembah dewa ini Anda dapat datang ke Kuil Matsuchiyama Shoten di Asakusa.

  • Fukurokuju

Dewa Fukurokuju dipercaya dapat mendatangkan kamakmuran dan umur yang panjang. Dari namanya sendiri Fuku berarti kebahagiaan, Roku berarti kekayaan, dan Ju berarti panjang umur. Fukurokuju merupakan pelindung bagi para atlet dan tukang jam.

Ia sering digambarkan selalu bersama burung bangau atau kura-kura. Bertubuh tinggi karena kepalanya yang besar dan panjang. Matanya besar berjenggot putih dan berpakaian seperti seorang sarjana di Tiongkok pada zaman dulu. Kuil Imado dipersembahkan untuk Fukurokuju.

  • Hotei

Dewa Hotei merupakan dewa yang dijuluki dewa gemuk, selain itu ia juga dijuluki Budha ketawa. Hotei adalah dewa dari titisan Bodhisatva Maitreya, seorang biksu yang pernah mendatangi daratan Tiongkok.

Hotei digambarkan berpenampilan seperti pengemis bertubuh gempal dan berkepala gundul. Hotei selalu tersenyum riang, membawa tas besar dan dikatakan sebagai pembawa keberuntungan. Ia sejatinya adalah pelindung bagi anak-anak dan nelayan.

Patung dewa Hotei dapat ditemukan di sejumlah negara seperti Jepang, Vietnam, Thailand, dan juga India. Di Jepang sendiri patungnya dapat kalian temukan di Kamakura.Kuil Hashiba Fudoin dipersembahkan untuk Hotei.

  • Jurojin

Jurojin adalah dewa kebijaksanaan yang berasal dari Tiongkok. Merupakan biksu Tao yang membawa tongkat dengan bungkusan yang di ikatkan di ujungnya. Konon hal tersebutlah yang mendatangkan kebijaksanaan. Jurojin juga dipercaya mampu mendatangkan umur yang panjang.

Jurojin sering digambarkan bersama seekor rusa. Ia juga merupakan dewa pemabuk dan gemar bermain wanita. Namun Jurojin merupakan dewa pelindung bagi kaum intelek seperti guru, ilmuwan, dan dosen. Terkadang dewa Jurojin dan Fukurokujo sering tertukar oleh orang-orang. Kuil Ishihama dipersembahkan untuk Jurojin.

  • Benzaiten

Benzaiten atau Benten adalah satu-satunya dewi di kelompok tujuh dewa keberunungan. Benzaiten merupakan dewa buddhis yang berasal-usul dari dewi Sarasvati di India. Ia adalah dewi musik, seni, dan kecerdasan. Dewi Benten dikenal sebagai dewi yang pencemburu namun juga dewi yang mewakili sukacita.

Ia digambarkan sebagai seorang dewi yang cantik, membawa alat musik Biwa (Kecapi Jepang) dan tubuhnya dilingkari oleh ular putih. Benzaiten adalah dewi pelindung bagi para seniman dan seorang entertainer. Benten juga melambangkan air yang melinduingi para pelajar. Kuil Yoshiwara Jinja dipersembahkan untuk dewi ini.

Festival Tanabata

Tanabata adalah salah satu perayaan yang berkaitan dengan musim di JepangTiongkok, dan Korea. Perayaan besar-besaran dilakukan di kota-kota di Jepang, termasuk di antaranya kota Sendai dengan festival Sendai Tanabata. Di Tiongkok, perayaan ini disebut Qi Xi. Festival Tanabata biasanya dilakukan pada saat musim panas, tepatnya tanggal 7 juli.

Tanabata diperkirakan merupakan sinkretisme antara tradisi Jepang kuno mendoakan arwah leluhur atas keberhasilan panen dan perayaan Qi Qiao Jie asal Tiongkok yang mendoakan kemahiran wanita dalam menenun. Pada awalnya Tanabata merupakan bagian dari perayaan Obon, tetapi kemudian dijadikan perayaan terpisah. Daun bambu (sasa) digunakan sebagai hiasan dalam perayaan karena dipercaya sebagai tempat tinggal arwah leluhur.

Legenda Qi Xi pertama kali disebut dalam literatur Gushi shijiu shou (古詩十九編, 19 puisi lama) asal Dinasti Han yang dikumpulkan kitab antologi Wen Xuan (文選). Selain itu, Qi Xi juga tertulis dalam kitab Jing-Chu suishi ji (荊楚歲時記, festival dan tradisi tahunan wilayah Jing-Chu) dari zaman Dinasti Utara dan Selatan, dan kitab Catatan Sejarah Agung. Literatur Jing-Chu suishi ji mengisahkan para wanita memasukkan benang berwarna-warni indah ke lubang 7 batang jarum pada malam hari ke-7 bulan ke-7 yang merupakan malam bertemunya Qian Niu dan Zhi Nu, dan persembahan diletakkan berjajar di halaman untuk memohon kepandaian dalam pekerjaan menenun.

Legenda asli Jepang tentang Tanabatatsume dalam kitab Kojiki mengisahkan seorang pelayan wanita (miko) bernama Tanabatatsume yang harus menenun pakaian untuk dewa di tepi sungai, dan menunggu di rumah menenun untuk dijadikan istri semalam sang dewa agar desa terhindar dari bencana. Perayaan Qi Xi dihubungkan dengan legenda Tanabatatsume, dan nama perayaan diubah menjadi “Tanabata”. Di zaman Nara, perayaan Tanabata dijadikan salah satu perayaan di istana kaisar yang berhubungan dengan musim. Di dalam kitab antologi puisi waka berjudul Man’yōshū terdapat puisi tentang Tanabata karya Ōtomo no Yakamochi dari zaman Nara. Setelah perayaan Tanabata meluas ke kalangan rakyat biasa pada zaman Edo, tema perayaan bergeser dari pekerjaan tenun menenun menjadi kepandaian anak perempuan dalam berbagai keterampilan sebagai persiapan sebelum menikah.

Pada awalnya festival tanabata ini diambil dari legenda “festival bintang” di Tiongkok. Legenda ini berkisan tentang anak perempuan raja langit bernama Orihime dan pengembala sapi bernama Hikoboshi, yang saling jatuh cinta. Keduanya dimabuk cinta sampai-sampai melupakan pekerjaan yang merupakan kewajiban mereka. Melihat kelakuan keduanya, raja langit marah dan memisahkan mereka dengan menempatkan mereka di sisi sungai Ama no Gawa (galaksi bima sakti) yang berbeda. Pasangan ini hanya diizinkan bertemu satu tahun sekali, yaitu setiap tanggal 7 juli. Namun, bila pada hari perayaan ini turun hujan, sungai Ama no Gawa akan meluap. Pasangan ini pun tidak bisa bertemu sampai dengan tahun berikutnya. Oleh karena itu, ada kebiasaan diantara orang Jepang untuk mengharapkan cuaca cerah pada tanggal tersebut.

Pertemuan pasangan ini juga digambarkan dengan pola bintang “Segitiga Musim Panas”. Orihime dilambangkan sebagai bintang Vega dan Hikoboshi dilambangkan sebagai bintang Altair. Keduanya terhubung menjadi segitiga besar bersama dengan bintang Dereb. Pada waktu inilah kita bisa melihat galaksi bima sakti berada di antara pola bintang segitiga musim panas.

Biasanya, saat perayaan festival ini, akan banyak pajangan bambu dengan kertas warna warni yang menggantung. Pajangan ini biasanya dipasang di mall ataupun shopping street. Pada kertas tersebut terdapat tulissn yang berisikan harapan. Kebiasaan ini dimulai pada zaman Edo. Pada masa tersebut  biasanya orang akan menuliskan harapan seperti “semoga lebih pintar menuliska shodo” atau “semoga lebih jago”. Hingga masa sekarang, kebiasaan ini masih tertinggal dalam masyarakat jepang dan dirayakan sebagai salah satu acaea tahunan. Banyak tempat yang akan di dekorasi. Selain itu, di sekolah seperti TK ataupun SD, anak-anak akan diajak melakukan aktivitas yang berhubungan dengan festival ini. Seperti menuliskan harapan di kertas warna-warni dan menggantungkannya di pohon bamboo. Lalu bambu tersebut akan dijadikan dekorasi. Di beberapa mall dan shopping street kadang diadakan juga acara yang melibatkan pengu njung, biuasanya aka nada booth tanabata yang membagikan kertas ke pengunjung dan meminta mereka untuk menuliskan harapannya di kertas tersebut.

Serah Terima Jabatan Pengurus Asahi

IMG_20200412_190905

Dalam rangka serah terima jabatan tahun ini telah dilaksakan kongres ASAHI pada tanggal 7 Maret 2020, dengan tujuan memperbaiki masalah aturan ketertiban, visi dan misi, Laporan Penanggung Jawaban (LPJ) pengurus lama, serta pelantikan ketua dan anggota baru ASAHI 2020. Serta telah dijalankan laporan rapat kerja setiap divisi pada 8 Maret 2020 dan telah siap memikul tanggung jawab dan amanah yang telah diterima untuk memajukan ASAHI kedepannya.

Sudah saatnya pengurus baru memikul tanggung jawab dan usaha yang diwariskan. Semoga harapan pengerus ASAHI 2019 yang belum tercapai, dapat tercapai pada pengurus baru ASAHI 2020. Tidak lupa juga selamat kepada Pembina baru ASAHI 2020 Lutfi Sensei. Semoga dengan Bersama ASAHI semakin lebih baik.

Dengan ini selamat atas pelepasan jabatan pengurus lama ASAHI 2019 dan selamat  pada pengurus baru ASAHI 2020. Semoga amanah dan tanggug jawab yang diberikan dijalankan sebaik – baiknya.

Undokai Asahi 2019

IMG_20191012_072254.jpg

Hai Mina-san, hari yang cerah gini enaknya ngapain ya?

Tentu, melakukan kegiatan diluar ruangan adalah pilihan yang tepat untuk mengisi waktu luang dihari yang cerah dan terik ini.

Oleh karena itu, untuk pertama kalinya Divisi Sukizuki ASAHI mengadakan acara Asahi Undokai yang dilaksanakan pada hari sabtu, 12 oktober 2019 yang bertempat di lapangan B1. Undokai sendiri adalah acara atau festival olahraga di Jepang yang diselenggarakan setiap tahunya di sekolah. Undokai tidak hanya fokus pada olahraganya, tetapi acara ini juga melatih kerja sama tim dan kekompakan.

pbj-2.jpg

Acara Asahi Undokai dihadiri Sensei-gata dan peserta lomba dari PBJ angkatan 2017, 2018, dan 2019. Setiap angkatan mengirimkan perwakilan untuk mengikuti perlombaan di acara Asahi Undokai. Ada lima jenis perlombaan yang diadakan dalam Asahi Undokai, ada mini soccer, bulu tangkis, voli, taifu, dan fashionista.

Acara diawali dengan pembukaan oleh MC dan dilanjutkan sambutan-sambutan oleh Ririz-san sebagai ketua panitia Asahi Undokai 2019, Silvi-sensei sebagai Kaprodi PBJ, dan Rina-sensei sebagai Kajur BSA sekaligus pembukaan Asahi Undokai secara simbolis.

Lomba pertama ada Mini Soccer yang diadakan dalam 3 kali pertandingan dengan 2 babak, satu babaknya berkisar 10 menit. Pertandingan pertama, tim 2019 melawan tim 2018. Pertandingan berlangsung dengan seru karena kedua tim tampak sangat kuat dan berapi-api. Pertandingan pertama dimenangkan tim 2018 yang lanjut bertanding dengan tim 2017. Tidak disangka pada pertandingan ke-2, lagi-lagi tim 2018 menang dari tim 2017, dan untuk menentukan juara berikutnya diadakan pertandingan ke-3 antara tim 2017 melawan 2019, dengan hasil akhir juara pertama mini soccer adalah tim 2018, juara ke-2 tim 2017, dan juara ke-3 tim 2019.

Perlombaan berikutnya ada voly yang dilakukan dalam 3 kali pertandingan, dengan peserta 6 orang, 3 putra dan 3 putri. Pertandingan pertama tim 2018 vs 2019, dilanjutkan 2019 vs 2017, dan pertandingan terakhir antara 2019 vs 2018. Lomba voly dimenangkan oleh tim 2017, dengan juara ke-2 tim 2019, dan juara ke-3 tim 2018.

Lomba yang ke-3 ada Bulu Tangkis, dengan peserta ganda campuran, yang diadakan dalam 3 kali pertandingan. Dan perlombaan kali ini dimenangkan oleh tim 2019 sebagai juara pertama, kemudian 2017 sebagai juara ke-2, dan 2018 sebagai juara ke-3.

Ada yang beda nih dari lomba ke-4, nama perlombaannya sendiri adalah Taifu (台風) atau dalam bahasa Indonesia kita sebut topan. Kenapa disebut taifu? Karena dalam perlombaan ini peserta harus berputar-putar dan berlali dengan kencang menuju finis. Perlombaan ini satu tim berisi 6 orang peserta yang berdiri sejajar dan membawa tongkat panjang. Setelah itu setiap tim harus berlari sambil membawa tongkat, dan dibeberapa titik setiap tim harus berputar beriringan dengan tongkat ditangannya. Lucu ya? Ini memang terlihat mudah tetapi sebenarnya sangat sulit, apa lagi jika panjang langkah setiap pemain berbeda, dan tekanan pada tongkat dari peserta membuat tongkat seolah-olah berat dan memperlambat pergerakan dari setiap timnya saat berlari. Lomba kali ini dimenangkan oleh angkatan 2019 yang gesti, kemudian juara 2 diperoleh angkatan 2018, dan juara ke-3 angkatan 2017.

Lomba terakhir yang tidak kalah seru ada Fashionista melompat, lomba balap karung yang disulap menjadi game seru dan rempong ala-ala fasionista. Setiap tim berisi 4 orang yang sudah berada di pos masing-masing, setiap posnya ada berbagai macam barang rang harus dipakai dan disalurkan ke peserta berikutnya hingga finis, pada lomba ini yang tercepat yang akan menjadi juaranya. Fashionista melompat dimenangkan oleh angkatan 2018, juara ke-2 dari angkatan 2017, dan juara ke-3 dari angkatan 2019.

Seru bangetkan kegiatannya? Siapa bilang anak PBJ jago bahasa Jepang doang, ternyata jago olahraga juga loh~ Acara ini sekaligus mengeratkan hubungan antar angkatan, petrandingan bukan sekedar melawan tetapi menjalin hubungan, kekompakan, dan persahabatan.

ketua panitia

Sampai jumpa di acara-acara selanjutnya.