Pengalaman adalah Guru yang Paling Baik

Mina-san, konnichiwa.

Tak terasa ya sudah bulan November. Jika berbicara tentang bulan November, maka tak akan jauh-jauh dari yang namanya hujan. Bagaimana dengan tempat tinggal Mina-san? Apakah juga sering diguyur hujan seperti Semarang?  Berbicara tentang hujan dan bulan November, aku ingin berbagi sedikit kisah menarik yang masih terus melekat di hati sampai saat ini.

Berawal dari hari itu, 5 November 2015, aku melirik jarum jam di layar handphoneku yang sudah menunjukkan pukul setengah Sembilan malam. Aku duduk di bangku tunggu stasiun sendirian dengan mendengarkan musik yang mengalun dari headsetku. Cukup lama aku memandang  sekeliling sambil menunggu teman seperjalananku ke Malang nanti. Ya, hari itu aku dan kedua temanku, Bayu dan Mas Tafdi ditugaskan menjadi delegasi dalam kongres Ikatan Mahasiswa Bahasa dan Sastra Jepang se-Indonesia atau yang lebih sering disebut IMAJI di Universitas Brawijaya, Malang selama tiga hari sejak tanggal 6 sampai 8 November. IMAJI merupakan himpunan mahasiswa pendidikan maupun sastra Jepang yang berasal dari berbagai universitas di Indonesia.

Singkat saja, pukul sepuluh kedua temanku datang. Di stasiun aku dan kedua temanku berkenalan dengan delegasi dari Universitas Diponegoro yang juga akan mengikuti kongres IMAJI. Karena kereta berangkat pukul setengah sebelas, akhirnya kami bersama-sama memasuki kereta. Aku memandang keluar jendela yang gelap dan tersentak kala mendengar rintik hujan mengenai kaca jendela kereta. Setelah hampir satu tahun kota Semarang tidak diguyur hujan, untuk pertama kalinya aku naik kereta, hujan menyambutku. Sedikit terbawa suasana anime-anime yang sering kutonton, aku menikmati aroma hujan yang terasa segar.

Perjalanan terasa sangat panjang, hingga mentari menyibak kegelapan. Sisa-sisa hujan pun sudah tak terasa lagi. Pemandangan dari hamparan kebun, sawah sampai pemukiman pun mulai terlihat. Ketika jarum jam menunjukkan pukul delapan pagi, kereta berhenti. Aku pun mengemasi barang bawaan yang sempat kukeluarkan ketika di kereta.

Aku dan kedua temanku berjalan menyusuri orang-orang yang juga baru saja turun dari kereta. Kami di jemput oleh panitia dari Universitas Brawijaya, ternyata di dalam mobil kami bertemu dengan delegasi lain dari Universitas Diponegoro. Aku sempat berpikir, kenapa orang yang di stasiun dengan yang kutemui di mobil berbeda? Namun aku segera mendapat jawabannya, mereka adalah delegasi dari Himawari.

Sepanjang perjalanan, aku tak henti-hentinya mengagumi penataan kota Malang. Rapi dan indah. Membuat siapa pun yang melihatnya akan merasa nyaman. Sesampainya di UB, aku lebih kagum melihat gedung-gedung menjulang megah. Wow! Hanya itu yang sempat keluar dari bibirku. Sesampainya di gedung Fakultas Ilmu Budaya, kami disambut oleh panitia yang semuanya adalah mahasiswa Pendidikan dan Sastra Jepang Universitas Brawijaya. Kami saling berkenalan, mereka ramah dan sangat welcome kepada kami, hingga aku merasa sangat nyaman berbincang dengan mereka. Apalagi, beberapa dari panitia seangkatan denganku sehingga kami bisa langsung akrab hingga bertukar line maupun akun sosmed lainnya. Tak hanya angkatan 2014, kakak angkatan 2013 pun ikut “bergosip” layaknya teman lama dengan kami. Aku mendengar banyak hal menarik dari mahasiswa Pendidikan maupun Sastra Jepang di UB, dari cara dosen mereka mengajar, mata kuliah yang mereka pelajari bahkan sampai emblem yang melekat di jas almamater. Begitu pun denganku. Aku menceritakan tentang Unnes, bagaimana pembelajarannya, kegiatannya, bahkan tentang Asahi. Dan mereka sangat tertarik mendengar ceritaku, sampai-sampai mereka ingin datang ke Unnes dan jalan-jalan di Semarang.

Karena kongres baru dimulai jam setengah 3 sore, dan waktu masih menunjukkan pukul sepuluh, kami dari delegasi berbagai universitas diajak berkeliling melihat-lihat kampus UB.  Sekali lagi aku terkagum-kagum melihat penataan kampusnya. Dari gedung perpustakaan, taman, bundaran, asrama, hostel, taman pendidikan, bahkan sampai kantin. Semuanya benar-benar luar biasa tertata rapih dan bersih. Setelah makan bersama di kantin dan saling berkenalan, kami dipersilakan menuju kamar untuk beristirahat. Kebetulan aku satu kamar dengan Kak Isna dari D3 Undip. Orangnya mungil dan menyenangkan. Kami sempat berbincang mengenai Sakura, himpunan mahasiswa D3 Undip maupun tentang Asahi.

Pukul setengah 3 sore, kami diminta berkumpul ke FIB untuk kongres hari pertama. Namun hujan deras membuat kami harus menunggu di lobi hostel. Padahal sebelumnya, ketika  aku “bergosip” dengan mahasiswa UB, Malang belum pernah hujan sekalipun sejak enam bulan yang lalu.

Tak berapa lama, kami dijemput dengan mobil menuju FIB yang memang cukup jauh dari hostel tempat kami menginap. Di sana kami dipandu oleh LO menuju ruang kongres di lantai 7. Hujan tak menghalangi kami untuk memulai kongres hari pertama. Pada acara pembukaan, kami disuguhi tarian zenbonzakura. Tariannya sangat indah dan cukup membuatku terpukau dengan penampilan para penarinya.

Usai pertunjukan, kongres pun dimulai. Dalam acara kongres tersebut kami membahas tentang AD/ART sampai tak terasa magrib telah tiba. Kami dipersilakan untuk ishoma. Ketika makan, aku kembali bertemu kak Aga yang merupakan wakil ketua Himawari. Banyak hal yang kudapat dari Kak Aga meskipun kami baru saja bertemu.

Setelah makan, kami kembali ke ruangan untuk melanjutkan kongres. Kali ini membahas tentang laporan pertanggungjawaban pengurus IMAJI tahun 2014 sampai 2015. Kongres berakhir pada pukul setengah 9 malam. Beberapa teman berencana jalan-jalan ke Wisata Batu, tak ingin menyia-nyiakan kesempatan karena sudah di Malang, aku pun memutuskan untuk ikut pergi ke alun-alun Wisata Batu. Di alun-alun sangat ramai pengunjung meski malam hari dan jarum jam sudah menunjukkan pukul sepuluh. Kami berkeliling sambil berfoto. Tak melupakan wisata kuliner, aku pun ikut mencicipi Ketan Legenda. Karena sudah lelah, kami memutuskan pulang dan kembali ke hostel untuk beristirahat.

            Hari kedua di Malang…

Pukul setengah 8 pagi aku sudah bersiap-siap untuk mengikuti kongres hari kedua. Masih membahas mengenai AD/ART dan GBHO, waktu pun terasa cepat berlalu hingga hampir pukul 4 sore. Setelah pembahasan AD/ART dan GBHO usai, kami langsung melaksanakan pemilihan ketua IMAJI baru. Kandidat yang dipilih adalah kak Aga (Undip), kak Perwira (UGM), Imam (UB), Rega (Unas) , kak Isna (Undip) dan kak Doni (UNJ). Satu per-satu calon disisihkan karena tidak sesuai dengan kriteria calon ketua yang sudah disepakati di GBHO. Hingga akhirnya tertinggal 3 calon ketua antara lain kak Perwira, Imam dan Kak Aga.

Setelah dipersilakan membuat visi dan misi, kami mengadakan diskusi bersama. Dimana para calon ketua membacakan visi dan misi mereka, kemudian peserta kongres akan memberikan pertanyaan kepada masing-masing calon ketua. Sebelum acara dimulai, kak Indah atau yang lebih akrab dipanggil I-chan dari D3 Undip bertanya, “Ada yang mau jadi moderator?”. Dia memandangku dan kembali berkata, “Intan mau jadi moderator?”

Aku menimbang-nimbang. Apa aku bisa? Dalam hati sebenarnya aku tidak memiliki cukup rasa percaya diri. Tiba-tiba kak Umar, pengurus lama IMAJI dari UB, ikut menyahut, “Iya Intan. Mau kan jadi moderator? Kalo Intan pasti bisa, ya kan?” Seperti ada kekuatan yang mendorongku, aku begitu yakin dan memutuskan untuk menerima tawaran menjadi moderator dalam acara diskusi pemilihan ketua hari itu juga. Meski awalnya gugup, aku mencoba bersikap tenang. Dalam hati aku berteriak, ini beneran?? Jadi moderator di depan teman-teman dari Universitas lain?? Teringat kata-kata kak Umar sebelumnya membuatku kembali memberanikan diri. Akan kubuktikan bahwa aku bisa, itulah tekadku. Aku pun memulai acara diskusi, meski awalnya gugup namun semakin lama aku semakin mampu menguasai diri.

Kebetulan yang hadir pada acara kongres itu adalah delegasi dari UGM, Unnes, Undip D3 dan S1, UB, Unesa dan Unas. Sedangkan delegasi dari Unair dan UNJ sudah pulang terlebih dahulu karena ada keperluan lain. Acara berlangsung cukup lancar sampai pukul setengah 6 sore. Karena sudah magrib, kami dipersilakan untuk ishoma. Dan kembali melanjutkan pemilihan ketua pada pukul 6.45. Seluruh peserta kongres pun berdiskusi siapa yang akan menjadi ketua IMAJI selanjutnya. Setelah berdiskusi cukup lama dengan berbagai pertimbangan, seluruh peserta kongres memilih dan memutuskan kak Perwira perwakilan dari UGM yang menjadi ketua IMAJI menggantikan kak Okky (UB) yang sebelumnya menjabat sebagai ketua IMAJI tahun 2014 sampai 2015.

Setelah disahkan menjadi ketua, kak Perwira pun memilih wakil ketua, sekretaris dan pengurus lainnya. Pada saat itu juga, kami memutuskan untuk melanjutkan Rapat Kerja. Namun sebelum melakasanakan Rapat Kerja, panitia dari UB mengadakan permainan dan kami dipersilakan bertukar bingkisan yang kami bawa dari masing-masing universitas. Kebetulan aku yang mewakili Unnes mendapat bingkisan dari Unesa, begitu pun sebaliknya. Setelah menerima bingkisan kami dipersilakan untuk bertukar almamater dan berfoto untuk mengakrabkan diri.

Setelah berfoto dan saling bertukar alamamater sebagai rasa saling menghormati, kami memulai Rapat Kerja. Sampai pukul setengah 9 malam, kami masih membahas kepengurusan dan program kerja yang akan kami laksanakan sampai satu tahun ke depan. Karena ruangan akan ditutup pada pukul 9, kami melanjutkan Rapat Kerja di hostel tempat kami menginap. Rapat berakhir pada pukul setengah 1 malam. Kami pun kembali ke kamar masing-masing untuk beristirahat.

Sebenarnya pada agenda sebelumnya hari Minggu pagi ada acara outbond, namun karena masih merasa lelah setelah kongres sejak pagi dilanjut Rapat Kerja sampai lewat tengah malam, kami diberikan waktu bebas untuk beristirahat. Tak ingin melewatkan kesempatan langka seperti itu, aku dan peserta kongres yang lain pun merencakan perjalanan ke tempat wisata di Malang. Namun tidak semua pendapat sama, pengurus baru lebih memilih pergi ke Museum Angkut, sedangkan aku dan kak Isna ikut pengurus lama ke Paralayang.

Pergi ke Paralayang cukup memakan waktu, meskipun saat itu kami memakai sepeda motor. Kami berangkat dari jam setengah satu siang. Jalan menuju Paralayang sangat menanjak dan udararanya pun terasa dingin. Sampai di puncak Paralayang kami berfoto bersama. Namun sayang sekali ketika tiba di sana kabut menutupi pemandangan. Tak berapa lama hujan pun turun. Kami terjebak di Paralayang sampai jam setengah 3 sore, padahal kami harus sampai di UB jam setengah empat untuk mengikuti acara penutupan. Setelah hujan reda, kami pun memutuskan untuk kembali ke UB. Sesampainya di UB kami berpamitan dengan panitia sebentar kemudian langsung diantar ke stasiun agar tidak tertinggal kereta karena waktu sudah menunjukkan pukul setengah 5 sore, sedangkan kami memesan kereta jam 5 sore. Tepat jam 4.45 kami tiba di stasiun. Untung saja kami tepat waktu, akhirnya aku, Bayu, Mas Tafdi, Kak Indah, Kak Isna dan beberapa teman lain masuk ke kereta dan meninggalkan kota Malang yang penuh kenangan. Benar-benar pengalaman yang tidak akan pernah aku lupakan.

Berikut adalah foto-foto yang saya dapatkan selama di Malang.

Sedikit kata untuk Mina-san, “Kau tidak akan pernah tahu rasa dari sebuah pengalaman tanpa mencicipinya sendiri.” Carilah pengalaman sebanyak-banyaknya, agar tidak menyesal di masa yang akan datang. karena pengalaman adalah guru yang paling baik.

(Intania Puri NirmalaDewi)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s