Sekolah di Jepang VS Sekolah di Indonesia

        Saya belajar bahasa Jepang di sebuah Perguruan Tinggi Negeri di Semarang. Bukan sastra Jepang melainkan pendidikan bahasa Jepang. Mungkin kalian masih bingung perbedaan antara mahasiswa sastra Jepang dengan mahasiswa pendidikan bahasa Jepang, bukan? Nah, kalau dari kacamata saya, mahasiswa sastra Jepang lebih mendalami budaya Jepang itu sendiri. Dari kebiasaan-kebiasaan di sana, sampai sejarah-sejarahnya. Biasanya, ditambah dengan media puisi lama, dan karya sastra lama. Sedangkan, mahasiswa yang berlatarbelakangkan pendidikan bahasa Jepang lebih mendalami bahasanya dan mempelajari metode pengajaran bahasa Jepang yang nantinya digunakan sebagai bekal kelak menjadi tenaga pendidik.

        Selain mempelajari bahasanya, saya pun mempelajari sedikit budaya Jepang yang lain, seperti perayaan hari-hari besar, makanan, pakaian, rumah, kendaraan, dan lain-lain yang merupakan kebiasaan orang Jepang atau Nihonjin (sebutan dalam bahasa Jepang bagi orang Jepang). Banyak hal positif yang bisa kita ambil dari budaya atau kebiasaan orang Jepang. Contohnya saja adalah penanganan sampah.

IMG_4685

        Saat semester satu, dosen menjelaskan kepada mahasiswa tentang budaya dan sejarah Jepang, mata kuliah tersebut bernama Nihonjijo dan Nihonshi (disini, saya akan menyebut dosen denga sebutan sensei). Seperti yang sudah diceritakan pada paragraf sebelumnya, dalam menjelaskan budaya Jepang, sensei memperkenalkan makanan dan perayaan-perayaan di Jepang, serta kebiasaan orang Jepang.

        Jepang sangat berbeda dengan negara saya. Ada banyak hal yang membuat saya terkejut, namun hal yang paling membuat saya terkejut dan paling tak terduga adalah sekolah. Ketika mata kuliah Bunpo Shokyu Zenhan, dosen pengampu yang bernama Ai Sensei mengatakan bahwa di Jepang, jam kegiatan sekolah dimulai pada pukul 9 pagi. Dibandingkan sekolah yang ada di Indonesia, jam masuk sekolah di Jepang lebih lambat. Awalnya, saya berpikir di Jepang serba pagi dan serba dahulu. Namun pemikiran itu salah, bagi orang awam akan berpikiran sama seperti saya karena mereka hanya sekedar mengetahui tentang Jepang dari kulitnya saja dan tidak mempelajarinya secara dalam.

        Menurut saya, sebenarnya siswa Jepang dan siswa Indonesia hampir sama. Pagi pagi sekali, siswa Jepang harus mempersiapkan diri untuk pergi bersekolah. Siswa tidak diperbolehkan mengendarai kendaraan seperti sepeda motor dan mobil. Berbeda dengan siswa/i Indonesia, khususnya SMP dan SMA, kebanyakan dari mereka mengendarai sepeda motor atau mobil untuk pergi ke sekolah. Siswa/i Jepang pergi ke sekolah dengan menggunakan kereta api, sepeda, atau berjalan kaki. Biasanya, di dalam kereta, mereka membaca buku/novel atau mendengarkan musik sambil menunggu tiba di sekolah. Ketika sudah sampai, mereka langsung masuk dengan mengganti sepatu khusus untuk di dalam ruangan. Kegiatan sekolah dimulai dari pukul 9 pagi sampai 4 sore. Setelah jam pelajaran selesai, siswa/i langsung mengikuti kegiatan ekstrakurikuler dan ada pula yang mengikuti bimbingan belajar. Lain halnya dengan siswa Indonesia, apalagi anak-anak sekolah yang tinggal di kota. Suatu ketika di hari Sabtu, saya coba main ke salah satu Mall terbesar yang terdapat di daerah Simpang Lima, Semarang. Untuk yang pertama kalinya, saya melihat banyak anak-anak sekolah yang masih memakai seragam sekolah berjalan kesana-kemari, ada juga yang nongkrong dengan segerombolan di foodcourt, lalu mengantri tiket bioskop yang juga dengan segerombolan anak-anak sekolah. Pemandangan seperti itu sudah biasa di kehidupan kota. Tapi tidak biasa buat saya yang sudah terlalu lama hidup jauh jauh jauh banget dari perkotaan. Begitulah. Kebanyakan sepulang sekolah, mereka tidak langsung pulang ke rumah tetapi langsung main ke Mall, atau mencari tempat nongkrong hanya untuk menghabiskan uang jajan. Enggak semua anak sekolah di Indonesia seperti itu sih, masih ada kok yang sehabis pulang langsung membantu orang tuanya di rumah, mengikuti les musik, tari, atau mengikuti bimbingan belajar seperti yang dilakukan oleh anak-anak sekolah di Jepang pada umumnya. Meskipun lelah, tapi kehidupan siswa Jepang sangat menyenangkan.

        Saya bertanya-tanya ketika sensei menyampaikan hal tersebut kepada kami, “Mengapa sekolah Jepang masuk pada pukul 9 pagi? Mengapa tidak masuk pukul 7 pagi seperti halnya sekolah Indonesia?”. Ternyata oh ternyata, di Jepang belum terang saat memasuki pukul 7 pagi. Meskipun jam masuk sekolah di Jepang lebih siang, namum hal tersbut merupakan hal yang baik. Andai saja bisa diterapkan di Indonesia, mungkin saja kemacetan yang kerap terjadi di kota metropolitan (Jakarta) bisa lebih diminimalisir. Disamping itu, sekolah-sekolah di Jepang tidak memperbolehkan siswa/i nya untuk membawa sepeda motor atau mobil. Hal tersebut merupakan larangan keras (!). Sangat berbeda dengan di Indonesia. Suatu ketika, saya pulang ke rumah nenek saya ketika liburan semester. Di perjalanan, saya melihat anak-anak sekolah mengendarai sepeda motor sedang menunggu lampu merah, terkadang salah satu dari mereka berusaha menyalip bus yang saya naiki dengan terburu-buru.  Lebih-lebih lagi, ada siswa/i yang membawa mobil ke sekolahnya, biasanya pemandangan tersebut bisa ditemukan di sekolah-sekolah favorit yang mana mayoritas siswanya merupakan anak pejabat. Enggak semua anak sekolah di Indonesia begitu, masih ada kok yang pergi ke sekolahnya pakai bus BRT, berjalan kaki, atau bersepeda. Malahan, saya pernah melihat mahasiswa salah satu perguruan tinggi negeri favorit se-Indonesia ada yang bersepeda untuk pulang pergi ke kampusnya.

        Tidak hanya itu, di Jepang, siswa/i nya terbiasa tertib, rapih, dan bersih. Hal tersebut bisa dibuktikan kala mereka yang bertugas piket pada hari itu, wajib membersihkan seluruh ruangan kelas seusai jam pelajaran sebelum melakukan aktivitas selanjutnya. Nah, ketika saya duduk di bangku SMP dulu, jadwal piketnya sih sudah dibuat, semua anak sudah mendapat kebagian untuk bertugas, TAPI pelaksanaannya sangat kurang. Banyak murid piket yang datangnya disengajain mepet supaya bisa jadi alasan untuk tidak sempat bertugas piket. Ada lagi, yang berpura-pura piket. Jadi hanya, pura-pura membersihkan kalau dilihat teman piketnya/petugas kebersihan sekolah. Lumayan parah lagi, kalau semisal pelaksanaan piket dilakukan seusai jam pelajaran. Kalau petugas kebersihannya enggak galak, jamin deh pada langsung kabur pulang semua. Ngaku kalau kalian pernah ada niatan seperti itu atau bahkan melakukannya (?).

        Kehidupan anak sekolah di Jepang sangat melelahkan tetapi menyenangkan. Menyenangkan karena terbiasa rapih, bersih, dan terbiasa bekerja keras demi mencapai pendidikan yang lebih baik. Itulah mengapa, sejak saya masuk prodi pendidikan Bahasa Jepang dengan sebenar-benarnya niat dari dalam hati, saat itu pula saya bermimpi, menetapkan, dan berupaya dengan berdoa untuk dapat menuntu ilmu lebih dalam lagi di negeri Sakura, Jepang.

        Masih ada banyak perbedaan antara sekolah di Indonesia dengan di Jepang yang belum terungkap. Seiring berjalannya waktu, cepat atau lambat saya akan bisa mengungkapnya. Dan lagi, informasi seputar cerita di atas atau seputar ke-Jepang-an, bisa kalian temukan secara tidak sengaja di majalah dan berita Internasional, anime, manga, film-film Jepang, atau kalau gak mau repot, pantengin aja terus web Asahi ya! (Eki Desi Handayani)

Satu pemikiran pada “Sekolah di Jepang VS Sekolah di Indonesia

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s