Rakugo

Kejutan humor dari panggung kayu, Tradisi lisan yang mati suri

rokugo

Rakugo (落語) secara harafiah memiliki arti kata yang jatuh, merupakan sebuah bentuk tradisi lisan yang berasal dan berkembang di negara Jepang. Pembawa cerita rakugo (Rakugoka) duduk ditengah panggung dengan membawa kipas kertas serta sebuah kain sapu tangan sebagai properti dan membawakan cerita panjang yang biasanya berdurasi lebih dari satu jam. Dalam membawakan cerita, Rakugoka mengubah arah hadap, nada, dan intonasi suara sebagai penanda pergantian tokoh dalam cerita. Mereka tidak berpindah posisi, melainkan tetap duduk sambil memperagakan gerakan atau situasi tiap tokoh dengan kipas dan kain.

Sejarah rakugo sendiri dapat ditelusuri diawal abad ke 9, dimana pada awalnya rakugo merupakan sarana pendeta buddha untuk berdakwah. Saat itu, rakugo masih berupa kegiatan menceritakan sebuah narasi tanpa dialog dan penokohan. Baru 400 tahun setelahnya ditambahkan monolog dan juga beberapa gerakan yang menggambarkan keadaan tokoh. Diakhir monolog selalu diselingi dengan beberapa permainan kata atau plesetan. Itulah kenapa dinamakan kata yang jatuh.

Cerita yang dibawakan rakugoka biasanya merupakan cerita tentang kehidupan masyarakat sehari-hari, cerita komikal, cerita sedih, bahkan cerita mengerikan yang tentunya diselingi oleh humor. Terkadang kita juga bisa mendapati rakugoka menceritakan humor dewasa. Plesetan kata, ekpresi, serta intonasi dari rakugoka kerap kali mengundang gelak tawa dari para penonton yang kebanyakan berusia paruh baya.

Namun dibalik tawa penonton, rakugo kerap kali mengalami pasang surut. Ada kalanya teater penuh dengan penonton, tak jarang pula sepi hingga hanya memenuhi 1,2 baris kursi. Rakugo dianggap kurang menarik oleh kebanyakan kalangan muda. Pada masa perang dunia satu, periode antar perang, hingga akhir perang dunia dua. Dunia rakugo mengalami mati suri. Hal ini dikarenakan peraturan ketat yang diterapkan pemerintah jepang pada masa itu mengenai cerita rakugo. Ketatnya peraturan itu membuat beberapa rakugoka merasa tak bebas dalam menyampaikan cerita hingga puncaknya tak sedikit yang keluar dari dunia rakugo.

Bagi mereka yang bertahan, kehidupan terasa serba sulit. Mereka hidup dari uang honor hasil pentas di teater yang kadang tidak mencukupi untuk sandang dan pangan. Beberapa diantara mereka, ada yang diundang oleh pemerintah untuk berkeliling daerah jajahan untuk menghibur tentara yang ditempatkan disana. Walaupun dibayar tak sedikit, namun resiko terkena penyakit lokal cukup besar didaerah jajahan yang kumuh tersebut.

Sekarang, selain diperuntukan untuk hiburan lokal, Rakugo juga dipromosikan sebagai daya tarik wisata. Para rakugoka yang dulunya digaji honorer, dikontrak oleh perusahaan promotor hiburan dan pariwisata sehingga dapat meringankan beban hidup. Selain itu, sering pula diadakan perlombaan rakugo antar mahasiswa yang diharapkan dapat menjadi generasi penerus. Tak hanya didalam negeri, rakugo juga menarik minat para pelajar luar negeri dari berbagai negara di amerika dan juga eropa. Mereka, selain membawakan rakugo dengan bahasa jepang, juga membawakannya dengan bahasa negaranya masing-masing sehingga mudah dipahami oleh pendengar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s