“MIMPI”

Bau kopi yang ada di tangannya kini bercampur dengan aroma solar yang menyeruak. Sebelah tangannya merogoh isi tas, mencari masker hitam pemberian sahabatnya. Setelah memakainya, dia berusaha memejamkan mata.

Suara klakson menjadi suara paling nyaring, tidak ada pembicaraan apapun yang terjadi di sini. Hanya sang sopir dan kondektur yang beberapa kali berteriak. Deru bus mengalun, mengiringi perjalanan kali ini. Kesunyian dan rasa mual menggiringnya untuk segera terlelap.

Dia berharap dengan tidur, dapat sedikit mengurangi rasa pusing dan mual yang menghampiri dirinya. Matanya terbuka lagi setiap kali suara klakson terdengar. Melirik ke kanannya, ada sebuah mobil besar berwarna ungu. Tampak berkilau. Dia sedikit menyesali kenapa tidak menaiki bus ber-ac itu. Alih-alih menghemat uang jajannya.

Tanjakan dan tikungan membuatnya melayang, syukurlah kali ini bus tidak banyak berhenti untuk menaik-turunkan penumpang.

Dia sudah terlelap.

Petikan suara gitar beriringan dengan laju bus yang lancar. Perlahan lagu itu terlantun, memecah keheningan. Dia berpura-pura acuh, tetap tidur. Namun setiap lagu selalu memecahkan konsentrasinya. Dia merogoh saku dan menemukan beberapa koin di sana.

Bus memasuki terminal, penumpang berganti tapi dia tetap diam dan terlelap. Sesaat kemudian, suara khas itu menggerayangi indera pendengarannya. Penjual asongan masuk lewat pintu depan dan belakang, menawarkan dagangan mereka ke penumpang yang setengah mengantuk. Termasuk ke gadis bermasker hitam yang tetap acuh.

Dia turun dari bus, dengan kepala nyut-nyutan sambil menenteng tas. Menatap bus itu beberapa saat, dia lalu pergi dan mengabaikan perasaan yang tidak karuan. Kosnya tidak begitu jauh dari pemberhentian bus, hanya melewati gang dan bangunan kosnya akan terlihat.

Lampunya padam, jendela tertutup, dan sandal hitam milik temannya tidak ada di tempat biasa. Dia merogoh kunci dan membuka pintu kamar. Langsung saja dia membuka jendela dan menyalakan kipas. Dia membaringkan tubuh di atas kasur, memejamkan mata dan menikmati angin dari kipas itu.

“Hei… hei. Aku tahu kau mendengarku. Jangan pura-pura tidur,” suara itu terlalu lembut, dan dia memilih mengabaikannya. Hingga—

 

BRAK

Suara ribut membangunkannya, keadaan sangat gelap karena malam baru saja tiba. Televisi di kamar tiba-tiba menyala, menayangkan saluran yang tidak begitu dia suka. Berita tentang kecelakaan.

“Hei, hei! Anna!” katanya lagi, lebih nyaring, “lihat, lihat. Bukanlah itu bus yang kau tumpangi tadi siang. Wah…!”

“Aku … tidak tahu.”

“Ya, kau lebih dari tau. Kau sudah mendapatkan sinyal, kan?”

“Aku tidak tahu!”

“Harusnya kau memberitahu semua orang dan menyelamatkan mereka dari-”

“Meski aku tahu, tidak ada yang bisa kulakukan. Berhentilah menggangguku.”

“Kau bisa saja mencegah semua itu …”

“Tidak ada hal yang bisa kulakukan!”

“Ini menyangkut keselamatan banyak orang. Tentang nyawa mereka. Dengar … dan lihat berapa nyawa yang sudah melayang saat-”

“Mimpi itu hanya bunga tidur. Itu hanyalah kebetulan. Aku tidak berhak ikut campur.”

Dia tersenyum miring.

“Hanya karena aku bisa melihat hal ghaib, bukannya aku bisa menyelamatkan mereka dari kecelakaan itu. Aku bukan Tuhan.”

“Kau memang bukan Tuhan. Tapi kau juga bukan orang biasa. Karena kau bisa mengobrol denganku…”

“…”

 

 

Cerita Pendek ini disusun oleh ALIENMARS

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s