Review Taiko

Dikutip dari Taiko (Buku Satu):

Menjelang pertengahan abad keenam belas, ketika keshogunan Ashikaga ambruk, Jepang menyerupai medan pertempuran raksasa. Panglima-panglima perang memperebutkan kekuasaan, tapi dari tengah-tengah mereka tiga sosok besar muncul, seperti meteor melintas di langit malam. Ketiga laki-laki itu sama-sama bercita-cita untuk menguasai dan mempersatukan Jepang, namun sifat mereka berbeda secara mencolok satu sama lain: Nobunaga, gegabah, tegas, brutal; Hideyoshi, sederhana, halus, cerdik, kompleks; Ieyasu, tenang, sabar, penuh perhitungan. Falsafah-falsafah mereka yang berlainan itu sejak dulu diabadikan oleh orang Jepang dalam sebuah sajak yang diketahui oleh setiap anak sekolah:

Bagaimana jika seekor burung tak mau berkicau? 

Nobunaga menjawab, “Bunuh saja!”

Hideyoshi menjawab, “Buat burung itu ingin berkicau.”

Ieyasu menjawab, “Tunggu.”

Buku ini, Taiko (sampai kini, di Jepang, Hideyoshi masih dikenal dengan gelar tersebut), merupakan kisah tentang laki-laki yang membuat burung itu ingin berkicau.

Taiko merupakan karya besar Eiji Yoshikawa, seorang novelis sejarah Jepang. Ia menciptakan sejumlah besar karya dan minat baru di masa lalu. Ia disebut-sebut sebagai salah satu novelis sejarah terbaik di Jepang. Taiko merupakan novel epik perang dan kemuliaan di masa feudal Jepang. Taiko asli terbagi menjadi 10 bagian dan diterbitkan perbagian pula, namun kini lebih mudah menemukan versi hardcover nya yang sudah lengkap 10 bagian menjadi satu jilid.

Awal mula saya membaca Taiko adalah karena tertarik dengan tokoh Oda Nobunaga. Saya pribadi kurang tertarik dengan cerita berlatar belakang sejarah karena biasanya susah dipahami, namun pada akhirnya saya mencari novel-novel yang memuat tentang Oda Nobunaga tersebut. Hingga akhirnya saya menemukan novel Taiko di internet yang ternyata terbagi menjadi 10 bagian.

Saya mulai membaca Taiko bagian satu yang seluruh halamannya terdiri dari 340 halaman. Penulis—Eiji Yoshikawa—menuliskan nama-nama tokoh dan juga tempat dari novel tersebut. Menurut saya dari hal tersebut memudahkan para pembaca untuk mengingat tokoh yang terlibat dalam novel. Taiko bagian satu ini lebih fokus pada cerita tentang Hiyoshi (nama kanak-kanak Toyotomi Hideyoshi) dan saya selalu menunggu kehadiran Oda Nobunaga dalam novel ini.

Hideyoshi sering dijuluki “monyet” oleh teman-temannya karena wajahnya yang mirip monyet dan juga perawakannya yang tidak begitu tinggi. Setelah ayahnya meninggal, ibunya menikah lagi dengan seorang pria yang berwatak keras. Buku ini menjabarkan tentang perjalanan Hideyoshi si anak miskin yang sering dipanggil monyet, pembantu di dapur benteng, pembawa sandal Nobunaga, dan tukang jarum.

Pembaca akan dibuat kagum dengan kisah dari Hideyoshi tersebut. Meskipun ia sering berganti tuan dan terlihat tidak cocok dengan pekerjaan apapun, namun sejatinya ia adalah orang yang lebih mementingkan bekerja daripada makan. Hideyoshi selalu dianggap caper atau cari muka terhadap tuannya dimata para pekerja yang lain, sehingga menimbulkan iri dan dengki. Setelah pertemuannya dengan Oda Nobunaga, watak Hideyoshi yang bijak dan teliti makin terlihat. Ia yang awalnya hanya pembawa sandal Oda Nobunaga, diangkat menjadi pengawas dapur, dan berganti lagi menjadi pengawas arang dan kayu bakar. Ia mengerjakan semua pekerjaan dengan baik dan jujur, sehingga ia memiliki keistimewaan khusus di mata Nobunaga.

Ketika ia menjadi pengawas dapur, ia berhasil membuat sebuah jendela besar sehingga dapur tidak lagi gelap. Saat ia menjabat pengawas arang dan kayu bakar, ia telah bekontribusi untuk menurunkan pesanan arang dan menghematnya. Pada saat ia mengecek pasokan arang, ia membuka rahasia bahwa sang pemasok berbohong tentang jumlah pohon perbukit dan memberikan sanksi untuk mereka. Dari hal tersebut terlihat bahwa Hideyoshi adalah orang yang tekun dan teliti.

Setelah itu, Hideyoshi mendapatkan kedudukan baru sebagai penjaga kandang, kenaikan upah, dan memperoleh rumah khusus untuk para samurai. Tentu hal ini membuat Hideyoshi sangat senang. Hal yang paling mengagumkan dari sosok Hideyoshi adalah bahwa ia selalu bekerja dengan tekun dan memiliki kesenangan tersendiri dari setiap pekerjaannya.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s